Marsheraga Deafinex

Tidak sekedar menulis, namun Menulis untuk berbagi ilmu dengan sesama dan mencari ridho Yang Maha Kuasa. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Teknologi

Mengikuti perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Photography and Traveler

Cerita-cerita tentang perjalanan, cerpen, motivasi, sejarah dan budaya serta Berbagi foto-foto menarik.

FORZA MILAN !!

Forza Milan Ti amo per sempre.

Islam itu Indah

Mempelajari agama Islam lebih dalam.

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Februari 2015

Pergi dan Tak Kembali

Shiba menyandarkan tubuhnya di bangku panjang di sebuah taman. Ia memandang amplop berwarna putih berisi kertas hasil pemeriksaannya di rumah sakit barusan. Perlahan ia merobek-robek amplop itu tanpa membukanya.

“Hidupku tak lebih hancur dari benda yang kurobek-robek ini.” Ia berdiri lalu menginjak-nginjaknya. Sekejap sobekan amplop itu telah berbaur dengan tanah becek di taman itu.

“Setidaknya dengan begini aku tak membebani siapa pun.”
“Aku harus melanjutkan hidupku seolah-olah tak ada hal buruk menimpaku!”

Shiba beranjak meninggalkan taman tempat bermainnya semasa kecil. Roda waktu serasa melaju sangat kencang, setidaknya setelah mengetahui hasil check-up itu.

Ia mengetuk sebuah pintu rumah bercat coklat tua. 1, 2, 3 kali, keluarlah tuan rumahnya.

“Aku kira kau takkan datang, Kak Shi..” katanya. Lalu ia menarik tangan Shiba masuk ke dalam rumah yang telah dipenuhi para undangan.

“Kemarin bibi bilang kakak sedikit deman, jadi tadi aku tak menghubungi kakak tadi, aku tak mau menganggu istirahat kakak.” Kata gadis itu. Namanya Cilla, berselisih 3 tahun dengan Shiba.

“Oh, ya..” Shiba memakaikan sebuah mahkota yang dibuatnya dari akar-akar pohon dan dihiasi bunga melati di kepala Cilla. Shiba membuatnya jauh-jauh hari sebelum ulang tahun ke-17 gadis itu.
“Bagaimana, kau suka tuan putri?”

Kedua pipi Cilla seketika memerah. Kedua bibirnya seolah ingin melontarkan banyak hal, namun tertahan. Ia memalingkan muka dari Shiba yang masih bertahan dengan senyum di hadapannya.

“Cilla.. Happy Sweet Seventeen Birthday!!” kata Shiba seraya memeluk gadis itu.
“Bisakah kau hidup selamanya dihatiku? Jika suatu saat aku meninggalkanmu?”
“Maksud kakak?”
“Cilla tau, kan? Di dunia ini tak ada yang abadi. Semua pasti kembali kepada Sang Pencipta..” perkataan Shiba seolah menghentikan detak jantung gadis yang sedang berada di pelukannya itu.
“Engg..gg.. sudah lupakan saja ucapanku tadi. Harusnya kita bersenang-senang dengan mereka, bukan?”

Shiba menunjuk undangan yang tengah mengerumuni sebuah meja dengan kue tart berhias 17 lilin di atasnya. Meski masih tak menangkap maksud perkataan Shiba sebelumnya, Cilla mengikuti gerak langkah Shiba menghampiri teman-temannya di sana. Lanjutkanlah seolah tak ada hal buruk yang sedang menimpa, bukankah sebaiknya begitu?
Cilla berada tepat di depan 17 cahaya lilin dengan Shiba di sampingnya.

“Don’t forget to make a best wish, Princess..” bisik Shiba pada gadis bak seorang putri di sampingnya itu. Cilla menghela nafas, memejamkan matanya..

Untuk yang terjadi sedetik yang lalu, sedetik dikemudian waktu, aku harap, Tuhan memberkati kami kekuatan tanpa batas untuk melanjutkan sebentang kehidupan yang terhampar di hadapan kami, seolah tak ada satu hal buruk pun yang menimpa. Batin Cilla mengucapkan. Lalu satu per satu cahaya ke 17 lilin itu padam ditiupnya. Semua undangan kemudian menyanyikan lagu potong kue untuknya. Tak terasa sepotong demi sepotong kue telah dibagikan untuk para undangan.

Laju roda waktu untuk melewati senyuman dan mendatangkan air mata memang secepat kilat. Setidaknya untuk mereka yang sedang tertimpa hal buruk, Shiba. Pusing, pening itu kini tengah melayang-layang di ubun-ubunnya. Memaksanya meninggalkan alam kebahagiaan sejenak lebih awal. Shiba mendekati Cilla yang tengah asyik bercanda tawa dengan teman-teman sekolahnya.

“Bolehkah aku bersama Tuan Putri untuk sekejap?” katanya di hadapan teman-teman Cilla yang rata-rata adalah perempuan. Mereka senyum-senyum dan mengangguk-angguk, lalu salah seorang teman Cilla meletakkan tangan Cilla di atas tangan Shiba.

“Nikmatilah waktu kalian, sobat!!” katanya. Shiba membawa Cilla menuju taman belakang yang berhubungan langsung dengan sebuah danau. Mereka duduk di atas perahu yang terikat di pohon di pinggir danau.

“Masih tak menangkap maksud perkataanku beberapa waktu yang lalu?” tanya Shiba pada Cilla yang baru saja menyandarkan kepalanya di bahu Shiba.

“Ini sebuah teka-teki untukku, Kak. Bisakah kakak tak berlama-lama membuat hatiku bertanya-tanya?” kata Cilla sambil merapikan rambut ikal coklatnya yang ditiup angin.

Shiba memberikan selembar kertas yang terlipat kepada Cilla. Gadis itu menerimanya tanpa bertanya lalu membukanya tanpa ragu. Ia baca satu persatu kalimat yang tercantum di kertas itu.

“Apakah ini hadiah ulang tahun untukku, Kak?” tanya Cilla lirih.

Setetes demi setetes air matanya jatuh membasahi kertas yang dipegangnya itu. Shiba menyeka air mata gadis itu dengan ibu jarinya. Cilla menahan paksa agar air itu berhenti mengalir di pipinya. Memaksa hatinya untuk menerima sebuah kenyataan pahit di hari bahagianya itu.

“Aku sengaja menyembunyikan ini dari semua orang karena aku tak mau mereka merasa terbebani, itu saja, tak lebih.” Suara Shiba tak sehalus tadi kepada Cilla. Ia mulai acuh dengan gadis itu.
“Mengapa kakak tau berusaha mengobatinya?”
“Mengobatinya? Percuma saja!! Hanya buang-buang uang, tenaga, dan waktu.”
“Kakak berubah! Bukan Kak Shi seperti yang aku kenal dulu!”
“Sudahlah.. umurku tak lama lagi. Ini adalah terakhir kalinya kita bertemu dan bersama. Apa pesan terakhirmu untukku, Cilla?”




Cilla melepas mahkota yang di kepalanya lalu meletakkanya di samping Shiba. Shiba meraihnya lalu membuangnya ke tengah danau. Cilla tak dapat menahan air matanya lagi. Ia bangun dan berlari meninggalkan Shiba sambil menangis. Shiba tetap diam, tak beranjak untuk mengejar gadis yang dicintainya itu. Ia mengambil kayuh yang tertancap di samping perahu lalu mengayuh perahu menuju rumahnya di seberang.

Sesampainya di sana, hanya lampu di gerbangnya saja yang menyala. Shiba mengetuk pintu namun ternyata pintu tak dikunci. Ia langsung masuk tanpa menyapa. Ia menaiki tangga menuju kamarnya, berjalan sedikit gontai.

“Hosh..!! hosh!! Jangan sekarang..”
“Biarkan aku berbaring dulu…”

Ia dobrak pintu kamarnya. Ia masih ingat, sebelum pergi ke rumah sakit, ia kunci pintu kamarnya, lalu ia meletakkan kunci kamarnya itu di dapur. Pintu kamar terbuka dan ia segera mendekati tempat tidurnya.

“Baiklah.. di tempat yang teramat sangat berantakan ini, kusampaikan pada malaikat yang bertugas mencabut nyawaku..” nafasnya mulai tersendat-sendat.
“Ambillah apa yang kau perlukan, lalu berilah apa yang kuinginkan..” Shiba menarik sisa nafasnya dalam-dalam..
“Sekian dan terima kasih.” Laju roda waktu seketika berhenti. Ia pergi dan tak akan kembali.

Shiba terbang menuju kumpulan awan putih di langit paling atas. Sesampainya di sana ia melihat sebuah tempat seperti sebuah desa. Ia mengintip dari celah di pintu gerbang. Bangunan di kanannya berwarna putih dan di kirinya berwarna hitam. Penghuni bangunan putih itu tampak sangat bahagia dan penghuni bangunan hitam sebaliknya. Melarat, tersiksa, sungguh mengerikan! Ketika Shiba hendak memasuki gerbang, seseorang yang menghuni sebuah bangunan kecil mirip post satpam, mengintrogasinya.

“Siapa namamu, anak muda?” tanyanya.
“Shiba, Pak.”
“Kamu meninggal karena apa?”
“Sakit, Pak.”
“Sakit apa?”
“Kanker hati, Pak.”
“Oh, ya?”
“Ya, Pak.?”
“Baiklah, silahkan masuk.” Lalu gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Namun yang ada di hadapannya hanya hamparan bangunan hitam-hitam. Jerit, tangis terdengar sangat jelas. Hawa sejuk tiba-tiba mendadak panas menyengat. Membakar kulit Shiba.

“Aku tidak masuk surga, ya?” gumamnya.
“Tidak. Karena kau begitu menyianyiakan segala yang diberikanNya padamu semasa hidup. Kau sama sekali tak berjuang untuk mempertahankan satu hal pun. Sekarang nikmatilah tempat tinggal barumu!” sebuah suara entah darimana sumbernya menjawab segala pertanyaan hati Shiba. Dengan tertatih-tatih Shiba menapaki jalan menuju ujung Neraka.

“Lanjutkan! Seolah-olah tak ada satu hal buruk pun yang sedang menimpa.” Gumamnya dengan lirih.


Cerpen Karangan: Triyana Aidayanthi
Sumber : cerpenmu.com

Senin, 29 Desember 2014

Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

 Fajar, Lukman, Sarah dan Wulan adalah anak-anak yang bersahabat sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Usai kelulusan dari SD, Fajar, Lukman, Sarah, dan Wulan melanjutkan sekolahnya ke SMP. Dan Sarah tetap memakai jilbabnya, meskipun banyak teman-temannya yang tidak berjilbab.

Memasuki jenjang SMA, mereka mulai berpelencar masing-masing. Wulan dan Sarah mondok di tempat yang sama. Lukman ikut dengan neneknya, dan kemudian mondok juga, untuk memperdalam ilmu agama. Fajar sendiri, ikut mondok dengan kakaknya. Hubungan persahabatan merekapun sedikit renggang akibat kurangnya komunikasi.

Rasa suka Lukman terhadap Sarahpun, ia simpan dalam hati. Berharap, suatu saat ia bisa hidup dengan Sarah. Orang yang selama ini ia idam-idamkan. Sampai ia pergipun, kata-kata manis dan indah yang selama ini ia tutup rapat-rapat belum sempat terucapkan untuk Sarah.

Sarahpun demikian, rasa sukanya terhadap Fajar ia simpan baik-baik dalam hati. Hanya Wulan sahabatnya yang mengetahui. Wulan sempat membujuk Sarah untuk mengatakannya, tetapi Sarah menolak. Sebagai wanita, ia merasa malu untuk mengatakannya. Ia merasa tidak pantas. Jika suatu saat, bukan Fajar orang yang akan mendampinginya, ia berharap sosok itu seperti Fajar yang selama ini ia idam-idamkan.

Beberapa tahun kemudian

Assalamu’alaikum warahmatullah, assalamu’alaikum warahmatullah..” usai melaksanakan sholat, Lukman lalu berdo’a. Selesai berdo’a, ia mendengar suara wanita yang mengajar dari ruang sebelah. Suaranya lembut, keibuan, dan enak di dengar. ‘Siapakah wanita itu?’ tanyanya dalam hati.

Lukman kemudian keluar, ia berjalan mendekati serambi wanita. Di dalam, terlihat anak-anak yang sedang mengaji. Ada wanita cantik mengenakan gamis berwarna ungu tua yang di padukan dengan jilbab warna ungu. Sopan, cantik, anggun, semua terpancar dengan indah. Tapi sayang, Lukman tidak bisa menatap wajah gadis berjilbab ungu itu. ‘Andaikan saja, aku bisa bisa masuk ke dalam sana, aku akan mendapati keindahan berbalut jilbab warna ungu itu. ‘Gumam Lukman dalam hati, yang diikuti dengan senyum dan hati gembira.

Sesampai di rumah, Lukman terus membayangkan wanita itu. Wanita cantik yang memakai jilbab ungu. Wanita cantik itu telah memikat hati Lukman. “Dengan bros ini, aku akan bertemu dan berkenalan langsung dengan ustadzah itu. Semoga dia adalah jodohku Ya Allah..” kata Lukman yang masih membayangkan wanita itu. “Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu, kecintaan-Mu, kecintaan orang yang mencintai-Mu, dan kecintaan terhadap amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu. Amin..” usai berdo’a, Lukman beranjak dari tempat tidurnya, untuk berhenti membayangkan wanita itu. Ia mengambil buku dan menuliskan sesuatu di sana. Setelah selesai ia melipatnya dan memasukkannya ke dalam amplop.

***

Assalamu’alaikum ustadzah,

Saya kemarin menemukan bros ustadzah yang jatuh, kemudian saya mengambilnya. Saya tahu, ada seorang gadis yang sedang kebingungan mencarinya. Maafkan saya, karena tidak memberikan bros ustadzah kepada gadis itu. Saya sengaja tidak memberikannnya, karena saya ingin langsung bertemu dengan ustadzah. Jujur, saya kagum ketika melihat ustadzah mengajar anak-anak, usai melaksanakan sholat.

Kemudian saya sempatkan untuk melihat ustadzah dari kejauhan. Saya sangat terkesima dengan keanggunan dan kelembutan ustadzah saat mengajar anak-anak. Jika ustadzah berkenan, Saya ingin kenal lebih dekat dengan ustadzah. Saya akan datang lagi ke masjid sabtu depan.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Lukman.

***
Sabtu depannya, Lukman datang lebih awal di masjid. Ia berharap, ustadzah akan datang untuk menemuinya. Beberapa saat kemudian, ada sebuah mobil mewah yang memasuki halaman masjid. “Itu ustadzah.. maaf sudah menunggu lama.” Kata gadis yang berada di samping Lukman. Dia adalah gadis yang kemarin mencari bros ustadzah yang hilang. “Iya.., tidak apa-apa.” jawab Lukman.

Alangkah terkejutnya saat lukman mengetahui, bahwa ustadzah itu adalah Sarah, teman ia sewaktu kecil. Gadis yang dulu ia sukai. “Beliau bernama ustadzah Sarah. Gadis kecil itu namanya Az Zahra, putrinya ustadzah Sarah” gadis itu menjelaskan. ’Anak..??’ pikir Lukman dan ia sangat terkejut.’ berarti Sarah sudah menikah.’ Tambahnya. “Nah.., yang itu suami ustadzah Sarah. Namanya ustad Fajar.” Terang gadis itu saat ustad Fajar keluar dari mobil. Ada perasaan senang sekaligus sedih dalam hati Lukman. Senang karena ia bisa bertemu dengan sahabatnya sewaktu kecil dulu. Sedih, karena dari kecil dulu ia selalu kalah dengan Fajar dalam merebut hati Sarah. Kini, Sarah sudah menjadi istri Fajar.

Tidak akan ada kesempatan lagi baginya untuk mendapatkan hati Sarah. Karena dia telah menjadi milik Fajar.

“Aku sudah membaca surat yang kau tujukan untuk Sarah. Saat Sarah memberitahukannya padaku, ia sangat senang. Berharap, Lukman yang menemukan brosnya itu adalah teman kecilnya dulu.” Kata Fajar. Sarah hanya tersenyum, begitu juga degan Lukman. “Oleh karena itu, aku bawa keluarga kecilku ini untuk bertemu denganmu” lanjut Fajar. “Maafkan aku Jar, aku tidak bermaksud untuk menggoda istrimu, Sarah. Aku tidak tahu kalau dia sudah memiliki keluarga. Sungguh, aku sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang aku perhatikan waktu itu adalah Sarah. Teman kecilku.” Lukman meminta maaf dan menjelaskan semuanya.
“Sudahlah Man.., sekarang kamu sudah tahu, bahwa wanita itu adalah aku. Aku sudah menjadi istri Fajar. Dan ini, (Sarah menggandeng gadis kecil nan cantik dengan balutan jilbab warna pink) dia putriku, Az Zahra” Terang Sarah. “Keluargamu begitu sempurna Sarah..” kata Lukman tersenyum. “Sekarang kita pererat tali silaturahmi kita yang sempat terputus Lukman.” kata Fajar. “Iya Jar, aku sudah lama merindukan kebersamaan kita dulu.” ungkap lukman.

Lukman pun ikhlas dengan semuanya. Sarah memang ditakdirkan bukan menjadi jodohnya. Kelak, Allah akan menggantinya dengan Sarah-Sarah yang lain. Wanita yang menjadi jodohnya, pendamping hidupnya. Dan ibu dari anak-anaknya. Ia yakin, Allah Maha Mengetahiu yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

Cerpen Karangan: Choirul Imroatin
Sumber : cerpenmu.com

Minggu, 10 Agustus 2014

Pertemuan Singkat di Halte Bus

Setiap pagi ku langkahkan kaki dengan ceria menuju Halte Bus dimana akan ada bus yang membawaku ke tempat kuliahku. Ditemani sinar sang mentari dan semilir angin di pagi hari.

Ku merasa sesak tinggal di kota metropolitan ini, asap kendaraan mengudara dimana-mana. Sudah jarang ku temui pepohonan nan rimbun disini. Aku hanya melihat tanaman layu yang mungkin telah dibuang oleh pemiliknya. Sungguh miris.

Anak-anak jalanan pun memulai aksinya. Dengan semangat yang membara, Ia mengitari satu persatu kendaraan yang sedang berhenti dengan nyanyian yang cukup menghibur walau nadanya masih terbilang hambar.

Sampai pandanganku tertuju pada seorang lelaki tampan yang memakai jas almamater nya dan menenteng sebuah tas jinjing. Ku perhatikan seluruh pakaiannya dari atas hingga bawah. Sungguh sempurna.

Baru kali ini aku melihat lelaki sesempurna ini. Sialnya aku ketahuan sedang memperhatikannya, Ia menatap ku dengan tatapan bingung dan langsung tersenyum padaku. “Aa.. Indahnya senyum itu.” gumamku. Aku membalas senyumnya dan langsung tertunduk malu. Tetapi tak lama Ia langsung menaiki bus yang sejak tadi Ia tunggu. Seketika Ia telah menghilang dari hadapanku. Aku merasa separuh jiwa ini telah pergi bersamanya. Tapi, kali ini aku berusaha tersenyum tegar. “Masih ada hari esok. Mungkin Ia akan menunggu bus di halte ini lagi.”

Suara klakson mini bus yang kutunggu sejak tadi telah mengagetkan lamunanku. Langsung saja ku percepat langkah untuk menaiki mini bus itu. Jika tidak, bisa-bisa aku tidak kebagian tempat duduk dan harus berdiri memegang lingkaran hitam lepek selama perjalanan.

Di dalam bus, aku masih saja memikirkan lelaki tadi. Tampaknya aku tak dapat melupakan begitu saja senyumnya yang menawan. Besok aku harus menemuinya!
Pagi ini masih sama dengan pagi yang kemarin. Sebelum ku langkahkan kaki menuju Halte Bus, aku sempat menenggakan segelas air putih untuk meredakan dahaga.

Kali ini, aku sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya. Karena ku ingin menatap senyum lelaki itu lebih lama lagi. Dengan hati yang berbunga-bunga ku lewati berbagai liku perjalanan ini. Kini, tak ku rasakan lagi, sesak karena asap-asap kendaraan. Sekejap asap itu berubah menjadi kabut putih yang menyelimuti pagi. Suara klakson dari kendaraan yang sedang berlalu lalang pun berubah menjadi nyanyian merdu sang bidadari. Pepohonan yang sedang layu pun bagaikan tumbuhan emas yang di tanam di istana raja, begitu lebat dan rindang.

Ku pandangi seluruh orang yang ada di Halte Bus ini. Tetapi belum juga kutemukan sosok lelaki yang ku cari. “Ah! Mungkin saja Ia belum datang. Kan aku yang sengaja datang terlalu pagi” gumamku.

Setelah menunggu kira-kira 20 menit. Aku belum juga menemukan lelaki itu. Senyum manis yang sedari tadi ku kembangkan perlahan berubah menjadi senyum kecut yang hambar. Mataku telah lelah menggeliat ke seluruh orang-orang yang sedang berkelebat di halte bus ini.

Tak lama, mini bus bewarna jingga menghampiri ku. Rasanya berat sekali melangkahkan kaki dari Halte bus ini. Tapi aku tak punya waktu lagi, karena jam bewarna merah muda yang melingkar di tanganku telah menunjukkan pukul 07:15. Itu artinya 15 menit lagi kuliah pagi akan dimulai.

Ku duduk dibangku depan bus. Ku pandangi jendela yang ada disebelahku dengan tatapan kosong. Tapi.. betapa terkejutnya aku, ternyata lelaki yang kutunggu sejak tadi, baru saja tiba di Halte itu.

Rasanya aku ingin turun lagi dari mini bus ini. Tapi bus ini sudah jalan cukup jauh dari Halte itu. Ku lirik jam tanganku kembali. Aku hanya bisa menghela napas panjang dan menenangkan hatiku.

Seminggu telah berlalu. Aku tak pernah menemui sosok lelaki itu lagi. Aku sangat kecewa. Ku langkahkan kaki menuju ke Halte Bus biasa. Kakiku terasa sangat lelah untuk berjalan. Aku hanya bisa tersenyum kecut pada setiap orang yang ku lalui di sepanjang jalan.

Harapan untuk bertemu dengan lelaki itu pun telah kupendam dalam-dalam. Hari ini jalanan terlihat cukup lega. Mungkin karena hari ini hari libur. Aku terduduk di sebuah kursi yang memanjang di sekitar Halte ini. Mataku terfokus pada Mini Bus bewarna jingga itu. Tak perduli lagi orang-orang yang berkelebat di sekitar sini.

Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku dengan bertopang dagu. Perlahan kubuka mataku. Jantungku serasa berdetak 10x lebih cepat dari biasanya, karena ku lihat lelaki yang dulu ku tunggu duduk disampingku. Aku menarik napas panjang.

“Aku tak kan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia sudah berada dihadapanku. Aku harus berkenalan dengannya” gumamku sambil mengumpulkan lagi semangat yang dulu membara.

“Hai.” Ucapku padanya.
Ia langsung tersenyum kaget. Ia menatap ku. “Hai juga” balasnya.
“Kenalkan, aku Viona. Emm, kamu siapa?” ucapku gugup sambil menyodorkan tanganku padanya.
Ia meraih tanganku seraya berkata “Saya Alif”
Aku berusaha untuk tersenyum semanis mungkin padanya. Setelah cukup lama aku berbincang dengannya, akhirnya kami bertukar nomor telepon. Sungguh bahagia aku, kali ini.
Setelah menyelesaikan tugas kuliah, tiba-tiba handphone ku berdering. Tanda ada sebuah pesan masuk.

From : Alif
To : Viona
Message :
Vi, kamu lagi apa?
Bisakah kau menemuiku di taman dekat persimpangan jalan?
Ada yang aku mau bicarakan denganmu.

Aku langsung bergegas meninggalkan rumah. Aku berjalan menuju tempat yang Alif perintahkan. Senyumku terus mengembang, walaupun tubuhku sedikit kelelahan.

Aku sudah melihat Alif di sebrang jalan. Ia sedang memesan minuman yang ada di pinggir jalan raya. Ku percepat langkah kakiku. aku ingin bertemu dengannya, karena telah 4 hari ini aku tidak melihatnya di Halte.

Mataku menggeliat ketika melihat sebuah mobil xenia melaju dengan kecepatan tinggi. Aku langsung menuju ke arah kerumunan orang. Aku benar-benar tak percaya. Ternyata Alif dan seorang pedagang itu yang telah menjadi korban pengendara mobil yang biadab. Seluruh tubuh Alif berlumuran darah. Tanpa terasa air mataku telah mengalir deras.

Mobil ambulan kini telah datang untuk mengangkut Alif dan penjual minuman tadi. Aku ikut bersama mobil itu. Ku bersihkan wajah Alif yang masih berlumuran darah itu dengan tissue. Air mataku belum juga mengering.

“Alif. Bangun” kata itu selalu kuucap selama perjalanan menuju ke rumah sakit sambil kuguncang-guncang tubuhnya. Tetapi, Alif tak kunjung sadar.

Matahari telah tenggelam di ufuk barat. Perlahan gelapnya malam mulai menjalar ke seluruh langit. Bintang-bintang mulai bersinar ditemani sang Bulan. Angin malam pun telah menusuk kulitku. Tapi aku belum beranjak dari sini. Aku akan menunggu sampai dokter keluar dari kamar Alif dan mengatakan bahwa Alif akan baik-baik saja.

Setelah kira-kira menunggu 20 menit. Akhirnya dokter itu pun keluar dari kamar Alif dengan wajah lelah. Aku pun langsung menghapirinya.

“Dok, bagaimana keadaan teman saya? Apakah Ia baik-baik saja?” ucapku lirih.
“Saya telah berusaha melakukan yang terbaik untuk teman anda. Tetapi luka diotaknya cukup parah. Sepertinya Ia tak akan bertahan lama, kecuali ada keajaiban yang datang padanya.” balas dokter itu.
“Apa saya boleh masuk ke dalam dok?” ucapku lagi
“Ya, tentu. Tadi saya menemukan ini di dalam kantong bajunya” ucap dokter itu sambil menyerahkan secarik kertas coretan dan handphone Alif.

Dengan langkah yang berat. Aku masuk menuju kamar Alif. Ku duduk disamping pembaringan Alif dan ku buka kertas itu. Ini memang hanya sebuah coretan milik Alif. Tetapi aku menemukan namaku ‘Viona’ terpampang di paling atas. Aku berusaha memahami tulisan Alif yang tak begitu jelas. Perlahan kubaca kata-kata itu.

___________________________
Viona.

Aku tak tau rasa ini muncul entah darimana.
Aku benar-benar ingin mengungkapkannya padamu.
Hari-hariku menjadi lebih bewarna selama aku mengenalmu.
Kau telah banyak mengajariku tentang arti sebuah cinta yang suci.
Dan kau pun telah menyadarkanku, bahwa selama ini kau adalah wanita yang ku cari.
Aku mencintaimu Viona.
Aku hanya bisa berharap kau juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Bagiku engkau wanita yang sempurna.
Sungguh sangat berbeda denganku. Aku hanya seorang lelaki yang serba kekurangan.
Tapi akan ku usahakan, untuk memberikan cinta yang sempurna untukmu.

By: Alif
___________________________


Air mataku semakin tak terbendung. Ku genggam erat tangan Alif seraya berkata “Aku juga mencintaimu Alif.”

Kulihat jantung Alif berhenti berdetak. Aku langsung memeluknya. Seakan tak percaya oleh semua ini. Hatiku hancur lebur.

“Mengapa kau harus pergi Alif? padahal kita akan menjalin hubungan yang selama ini ku tunggu.
Alif. Kau lelaki yang sangat sempurna. Mengapa kau harus pergi secepat ini?”

Di atas gundukan tanah yang masih basah dan dipenuhi bunga-bunga, aku duduk bersimpuh.
“Semoga kau tenang disana Alif. Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk mengenalmu lebih jauh. Mungkin memang Tuhan telah menetapkan jalan terbaik untukmu dan untukku. Entahlah. Yang aku tahu, aku sangat mencintaimu.”

Cerpen Karangan: Tutut Setyorinie


Sumber : cerpenmu.com